Kerajinan Gamelan Laras Utomo
DILEBUR, DITEMPA, DIBENTUK
Keberadaan sanggar perajin alat musik gamelan ini tak lepas dari perjalanan sejarah bisnis keluarga yang cukup panjang. Mulai dari belajar secara turun-temurun, menjadi buruh, mendirikan sanggar seni sendiri hingga peralihan manajemen.
Jika ingin travelling sekalian mencari sentra kerajinan gamelan, tidak salah jika berkunjung ke Sukoharjo, Jawa Tengah, tepatnya kawasan Mojolaban. Letaknya kurang lebih 1KM dari Kota Solo bagian selatan. Tidak butuh waktu banyak untuk menuju ke salah satu sanggar seni pembuat gamelan ini, yakni Desa Jatiteken. Di desa yang terletak di sebelah timur tanggul Sungai Bengawan Solo, setiap warga tahu letak Sanggar Seni Laras utomo.
Usaha ini kini di kelola oleh Ismadiastuti (58), istri almarhum Saleh Sutomo, Majelis Gereja Kristen Jawa (GKJ) kronelan. Ismadiastuti mulai mengelola sanggar ini melalui proses yang tak terduga. Suami tercinta di panggil Tuhan. Namun, lantaran puluhan tahun turut menemani perjuangan suaminya, bukan hal yang sulit untuk mengambil alih peran suaminya demi kelangsungan sanggarnya. Apalagi saat ini, pesanan membanjir.
Ditempa pengalaman
Kisah sukses Saleh Sutomo (alm.) mendirikan industri ini tak lepas dari peranan profesi ayahnya, Rangga Prawiro Sutomo, seorang empu gamelan dari Pura Mangkunegaran era KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya) Mangkunegara VII. Meski diturunkan dari ayahnya, bukan berarti ia langsung bisa meneruskannya. Selama kurang lebih 23 tahun, Saleh harus menjadi buruh atau ngenger ke sejumlah empu gamelan.
Dengan menjadi buruh itulah, pria kelahiran Matesih, Karanganyar, 24 Agustus 1958 ini mendalami seluk beluk pembuatan gamelan, mulai dari bahan, ukuran, serta cara membuatnya. Hingga 1989 ia mulai tergerak untuk mendirikan usaha yang sama dengan nama Sanggar Seni Laras Utomo di rumahnya.
Lantaran awal memulai usaha dengan modal terbatas, jumlah karya gamelan yang dihasilkannya pun terbatas. Seperti halnya gamelan bentuk Wilahan (Belahan) bernama gender yang hingga kini masih terpajang di ruang tamu rumahnya.
"Ini untuk kenang-kenangan pertama bikin gamelan, Mas. Jadi memang tidak akan saya jual," terangnya saat rolasan (jam istirahat) produksi gamelan di rumahnya beberapa waktu lalu sebelum di panggil Tuhan.
Modal pengalaman membuat karya-karya yang di hasilkan sanggar ini tidak di ragukan lagi. Tak sedikit pesanan datang, mulai dari daerah hingga mancanegara,seperti Malaysia dan Inggris.
Ditempa untuk dibentuk
Untuk membuat gamelan, dibutuhkan sejumlah bahan. Diantaranya tembaga dan timah Bangka. Bahan-bahan tersebut didapatkan dengan membeli di Pasar Besi. Setelah lengkap, kedua bahan kemudian dicampur, dilebur, hingga jadilah perunggu. Sedangkan takaran bahan itu sendiri, seperti halnya para empu yang lain, dengan metode tiga banding sepuluh. Tiga untuk timah, sepuluh untuk tembaga. Orang Jawa menyebutnya Gongso akronim dari Tigo (tiga) dan sedoso (sepuluh).
Setelah dilebur, bahan masih diramu untuk di cetak dengan bahan-bahan yang tidak sekedar diukur secara matematis. Di sinilah pria yang akrab dipanggil Pak Saleh ini harus memutuskan ukuran takaran bahan supaya menghasilkan nada yang sesuai dengan pakem gamelan.
Untuk bentuk wilahan, bahan-bahan di cetak dalam cetakan panjang yang terbuat dari batu. Seperti jenis gamelan slenthem, gender, saron, demung, Lain halnya dengan bentun pencon yang mendekati bulat, seperti kenong, bonang, kempul, dan gong.
Setelah dicetak, bahan dibakar lagi untuk kemudian ditempa. Setelah ditempa, barang yang sudah berbentuk dan selaras nadanya dilakukan finishing, yakni proses penghalusan dengan gerinda.
Bergema di Mancanegara
Gamelan merupakan salah satu jenis alat musik tradisional di Indonesia. Sejumlah daerah menggunakan alat musik ini seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Madura, dan Lombok. Alat musik tradisional ini tak hanya menjadi kebutuhan para seniman dalam negri. Sejumlah seniman, master gamelan, kolektor, bahkan kalangan dunia pendidikan di mancanegara pun kesengsem dengan alat musik ini.
Di daerah sendiri, sejumlah seniman tradisional memesan gamelan di Laras Utomo, khususnya dalang wayang kulit, seperti Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Sudarsono. Sedangkan untuk pasar mancanegara lebih banyak pesanan dari Inggris, selain Malaysia.
Untuk seperangkat gamelan lengkap sesuai pakem di bandrol dengan harga sekitar 300 juta rupiah. Harga itu berbeda dengan pesanan yang tidak seperangkat.
Sebagian pemesan membeli gamelan jenis bonang, kenong dan beberapa gamelan bentuk wilahan. Sedikitnya mereka memesan sepuluh kenong serta bonang berikut rancak atau alat penyangga.
Mengandalkan Tuhan
Untuk memproduksi alat musik ini, seorang empu juga harus pandai memperhitungkan biaya produksi. Apalagi saat ini harga bahan yang di butuhkan juga menanjak, selain upah pekerja yang diberikannya secara harian.
Ismadiastuti dengan kegigihannya menjalankan kelangsungan usaha ini sepeninggal Pak Saleh pada 14 Mei 2013 lalu. Walaupun suami tercintanya telah di panggil Tuhan, Ismadiastuti tetap percaya bahwa ketika ia mengandalkan Tuhan, ia dimampukan untuk melanjutkan usaha ini. Tuhan akan selalu memberikan kekuatan dan hikmat baginya sehingga bisa mengelola usaha ini dengan baik. Bahkan saat ini pesanan demi pesanan mengantri di meja daftar pemesan gamelan. Bahan-bahan pun siap ditempa, dibakar, dibentuk.
Gooooongggg... Thok thung thok... Thok thoook thokk... Gongg... Jenglengggg....











Komentar
Posting Komentar